Arsip

Arsip untuk Februari 22, 2008

Sheikh Albani Cries After Hearing A Dream

Februari 22, 2008 okah Tinggalkan komentar

Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullohu ta’ala menangis setelah mendengar cerita mengenai mimpi yang dialami oleh seorang wanita, mimpi mengenai beliau rahimahullohu ta’ala.
Semoga dapat mengambil ibroh.

Categories: Video

Matan Hadits Arba’in An-Nawawi

Februari 22, 2008 okah 1 comment

InsyaAlloh telah masyhur dikalangan kaum muslimin mengenai kitab yang berisi kumpulan 42 hadits karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullohu ta’ala. Berikut kami sajikan dalam format audionya. Semoga memudahkan kita semua untuk menghafalkannya.

1. Niat

2. Islam, iman, ihsan dan kiamat

3. Rukun Islam

4. Kejadian dan amal manusia

5. Bid’ah Read more…

Arti Sebuah Niat

Februari 22, 2008 okah Tinggalkan komentar

Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsary

Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlas untuk Allah semata.

Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan”.

Hadits yang agung di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam beberapa tempat dari kitab shahihnya (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953) dan Imam Muslim rahimahullah dalam shahihnya (no. 1908).

Berkata Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali tentang hadits ini : “Yahya bin Said Al Anshari bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dari `Alqamah bin Waqqash Al Laitsi, dari Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu. Dan tidak ada jalan lain yang shahih dari hadits ini kecuali jalan ini. Demikian yang dikatakan oleh Ali ibnul Madini dan selainnya”. Berkata Al Khaththabi : “Aku tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ahli hadits dalam hal ini sementara hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Abu Said Al Khudri dan selainnya”. Dan dikatakan: Hadits ini diriwayatkan dari jalan yang banyak akan tetapi tidak ada satupun yang shahih dari jalan-jalan tersebut di sisi para huffadz (para penghafal hadits).

Kemudian setelah Yahya bin Said Al Anshari banyak sekali perawi yang meriwayatkan darinya, sampai dikatakan : Telah meriwayatkan dari Yahya Al Anshari lebih dari 200 perawi. Bahkan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 700 rawi, yang terkenal dari mereka di antaranya Malik, Ats Tsauri, Al Auza`i , Ibnul Mubarak, Al Laits bin Sa`ad, Hammad bin Zaid, Syu`bah, Ibnu `Uyainah dan selainnya. .

Ulama bersepakat menshahihkan hadits ini dan menerimanya dengan penerimaan yang baik dan mantap. Imam Bukhari membuka kitab Shahihnya dengan hadits ini dan menempatkannya seperti khutbah/mukaddimah bagi kitab beliau, sebagai isyarat bahwasanya setiap amalan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah maka amalan itu batil, tidak akan diperoleh buah/hasilnya di dunia terlebih lagi di akhirat. Karena itulah berkata Abdurrahman bin Mahdi: “Seandainya aku membuat bab-bab dalam sebuah kitab niscaya aku tempatkan pada setiap bab hadits Umar tentang amalan itu dengan niatnya”. Beliau juga mengatakan: “Siapa yang ingin menulis sebuah kitab maka hendaknya ia memulai dengan hadits innamal a’malu binniyah. (Jam`iul `Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 59-60. Muassasah Ar Risalah, cet. Ke-4, th. 1413 H/1993 M)

Hadits ini selain diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan oleh para imam yang lain. Dan komentar tentang hadits ini kami cukupkan dari menukil ucapan Ibnu Rajab Al Hambali di atas karena padanya ada kifayah (kecukupan).

Penjelasan Hadits Read more…

Categories: Kajian Fiqh, Kajian Hadits

Ilmu Syar’i, Hakikat Kebaikannya dan Pemiliknya

Februari 22, 2008 okah Tinggalkan komentar

Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsary

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani, Al-Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat pada kitab Shahih-nya (no.71, 3116, 7312) dan Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 1038)

Kebaikan yang hakiki
Banyak orang menyangka bahwa harta yang melimpah, pangkat dan jabatan serta status sosial yang dimiliki merupakan tanda kecintaan Allah kepada seseorang dan menunjukkan Allah menginginkan kebaikan bagi pemiliknya. Tak jarang hal ini membuat pemilik kenikmatan tersebut tertipu sehingga ia lupa diri, berlaku sombong di muka bumi, melupakan Allah dan enggan untuk bersyukur.
Demikian pula orang-orang di sekitarnya, mereka ikut tertipu dengan melihat orang yang bergelimang kenikmatan tersebut sehingga mereka pun iri padanya, memimpikan dan mengangan-angankan agar mendapatkan kenikmatan yang sama.
Mengapa mereka tidak mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah Qarun, seorang yang kaya raya yang hidup di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam dan bagaimana kisah orang-orang yang tertipu dengan kenikmatan yang diperolehnya: Read more…

Categories: Info Umum, Nashihat

Lakukanlah Hal-hal yang Bermanfaat

Februari 22, 2008 okah Tinggalkan komentar

Penulis : Al-Ustadz Zainul Arifin

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:
Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (untuknya).”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)

Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=588

Categories: Info Umum, Nashihat