Mengimani Isa ‘alaihissalam Turun, Sebuah Keniscayaan
Penulis: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin
Selain didasari keikhlasan, satu amal bisa diterima sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (amal shalih), harus didasari pula bahwa amal tersebut selaras dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi sa sallam. Seperti dinyatakan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu saat menjelaskan pengertian ayat:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)
Maka, dijelaskan bahwa yang lebih baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Karena sesungguhnya amal itu bila dilakukan secara ikhlas namun tidak dilakukan secara benar (sesuai As-Sunnah), maka tidak diterima amal tersebut. Begitu pula satu amal yang dilakukan secara benar (sesuai tuntunan As-Sunnah) namun tidak diiringi dengan keikhlasan, amal tersebut tetap tertolak. Satu amal diterima bila keikhlasan dan dilakukan secara benar tersebut menjadi landasannya. Yang dimaksud keikhlasan yaitu menjadikan (amal tersebut) hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan yang dimaksud dilakukan secara benar yaitu menjadikan amal tersebut berdasar atas As-Sunnah. Read more…
